Zahara Putri

Penulis fiksi dan non fiksi. Menggoreskan karya dalam tulisan, agar dibaca banyak orang dan bermanfaat.

Technology

Catatan

Sunday, 28 July 2019

Hymn of Death

No comments :
Nonton Hymn of Death, Bikin Menyesal!
Oleh: Zahara Putri

Kenapa aku harus menulis judul seperti itu? Itu memang dari apa yang aku rasakan. Hahaa. Sungguh aku menyesal setelah menonton drama ini. Nyeseknya nggak kunjung hilang. Lalu, jika seperti ini, siapa yang akan tanggung jawab? Oh ... no!

Drakor pendek dengan 6 episode ini diperankan oleh Lee Jong Suk sebagai Kim Wo Jin dan Shin Hye Sun sebagai Yoon Shim Deok. Merupakan drama percintaan tragis yang bersetting di tahun 1910 pada masa penjajahan Jepang di Korea, saat itu masih bernama Joseon.

Woo Jin dan Shim Deok merupakan pelajar yang mencintai tanah airnya. Berawal dari grup teater yang mereka ikuti, mereka dipertemukan. Woo Jin sebagai penulis skenario dan Shim Deok sebagai penyanyi. Kecintaan kepada tanah air dan kebersamaan selama latihan, akhirnya tumbuhlah perasaan di antara mereka.

Cinta di masa penjajahan seperti itu tentu tidaklah mudah. Apalagi grup teater mereka dianggap memberontak kepada Jepang, karena melakukan tur drama dengan bahasa Joseon dan menyulut emosi Jepang.

Namun, hikmah dari Woo Jin ditangkap dan dipukuli petugas Jepang, Shim Deok menjadi cemas dan setia menunggu keluarnya Woo Jin dari hukuman Jepang, dari situ akhirnya mulailah perasaan yang mereka pendam dinampakkan.

Mereka saling jatuh cinta, tapi harus menerima kenyataan pahit pula, bahwa mereka tidak mungkin bersatu. Kim Woo Jin sudah menikah dengan gadis pilihan keluarganya yang tak pernah ia cintai. Woo Jin dari keturunan keluarga kaya raya, tapi ia tak merasa bahagia. Ayahnya menentang dia menjadi sastrawan dan meminta untuk meneruskan bisnis ayahnya. Hanya bersama Kim Deok, Woo Jin merasa bahagia dan menjadi dirinya sendiri. Tetap menulis.

Awalnya mereka berusaha melupakan satu sama lain, karena melihat kondisi  Woo Jin yang sudah beristri. Dalam kurun waktu 5 tahun mereka mencoba melupakan, tapi gagal. Mereka masih saling mencintai. Akhirnya mereka pun bertemu diam-diam.

Ujian cinta datang silih berganti, kemiskinan keluarga Kim Deok yang memaksanya untuk dinikahkan dengan keluarga kaya raya agar bisa membantu keluarganya, tapi Woo Jin tak bisa berbuat apa-apa. Hingga tekanan ayah Woo Jin yang terus menentang Woo Jin menulis. Dan ketika hubungan mereka diketahui keluarga Woo Jin, memaksa mereka untuk melupakan dan memilih keluarga.

Karena begitu kuat cinta Woo Jin, ia merelakan kekayaan ayahnya dan memutuskan berpisah dengan istrinya. Ia ingin bersatu dengan wanita yang ia cintai. Walau rumor buruk tentang Kim Deok, Woo Jin tetap bertahan. Percaya dengan wanita yang ia cintai.

Saat mereka sudah memutuskan untuk bersama, tekanan dari keluarga pun mulai datang. Kemiskinan Kim Deok yang menuntut ia menjadi tulang punggung, dan tuntutan ayah Woo Jin yang memintanya ia kembali meneruskan bisnisnya karena sakit-sakitan sejak ditinggalkan anaknya.

Mereka dihadapkan 2 pilihan, kembali ke keluarga masing-masing tapi cinta mereka tak bisa bersatu, atau bertahan bersatu, tapi keluarga mereka yang sekarat. Mereka tak punya pilihan. Mereka merasa lelah. Namun, mereka pun tak ingin berpisah.

Akhirnya mereka memilih beristirahat dengan tenang tanpa beban, dan tetap menyatukan cinta mereka. Bersama dalam kematian.

Dan setelah nonton drakor yang diadaptasi dari kisah nyata ini, aku menyesal telah nonton. Drakor yang bikin nyesek dan membuatku larut dalam kesedihan. Hiks.

Bangil, 28 Juli 2019
16.53 wib

Tuesday, 28 May 2019

TSM Malang Alternatif Wisata Terjangkau

1 comment :
Tepatnya hari Rabu, 22 Mei 2019, saya diajak teman-teman blogger untuk hadir pada undangan Transmart di Malang. Tentu saja langsung saya tanggapi dengan positif, apalagi ketika ada tawaran buka bersama dan uji coba permaianan di Transstudio Mini.

Awalnya saya memang tidak tahu lokasi tepatnya, saya pikir lokasinya ada di Batu. Ketika mendengar suatu permainan selalu berpikir di Kota Batu. Maklum saya memang jarang ke Kota Malang karena kesibukan saya dan kurang begitu update tentunya, he. Akhirnya adik lah yang memberi tahu bahwa lokasinya ada di Malang, dekat dengan Matos.

Setelah tanya teman-teman dan minta share lokasi, ternyata yang dikatakan adik benar. Alhamdulillah, setidaknya saya tidak melakukan perjalanan yang cukup panjang untuk pergi ke lokasi. Kota Malang adalah tempat yang cukup tepat dan strategis, apalagi jika berada di pusat kota. Setidaknya tidak perlu keliling untuk mencari lokasi yang rumit.

Saya berangkat pukul 14.00 dari Singosari, cukup rajin. Begitu semangatnya, saya tidak ingin hadir terlambat. Setidaknya ontime. Walau pada akhirnya harapan tidak sesuai kenyataan. Jalanan macet, saya juga harus salat Ashar di sekitar lokasi, dan kesulitan komunikasi dengan teman-teman. 

Setelah di Transmart, saya benar-benar kehilangan komunikasi dengan teman-teman blogger, karena pada hari itu dan tepat waktu itu ada pengumuman dari Pemerintah bahwa sosmed, terutama WA dinonaktifkan terkait kasus people power di Jakarta, untuk menghindari berita hoax. Kami tidak bisa mengirimkan pesan sama sekali, bahkan janji temu pun, saya tidak tahu tepatnya di mana.


Yang aku ingat hanya lantai satu. Ya, di lantai satu saya berkeliling sendiri, mengitari lantai 1 sambil melihat sekitar dan mencari keberadaan teman-teman. Di lantai satu saya temui banyak foodcourt, tempat tongkrongan yang asyik. mau pilih yang mana terserah sesuai dengan selera. Di sana ada 17 stan makanan. Mulai dari Warung Upnormal, Gokana, K-Ichiro, Daun Lada, Solaria, Starbuck, Burger King, Nasi Goreng 69, Bakso Boedjangan, dan masih banyak lagi. Pengunjungnya beraneka ragam, mulai dari anak muda hingga sudah berkeluarga, walau sebenarnya target lebih ke para mahasiswa, yang ramah di kantong dan tempat asyik untuk kumpul bareng teman. Namun, untuk keluarga juga tetap menyenangkan dan cocok.




Saya menikmati berkeliling sendirian, hingga saya kembali ke pintu depan dan di sana saya temukan teman-teman, mengisi daftar kehadiran dan menunggu dimulainya acara. Alhamdulillah, walau saya telat gabung, setidaknya acara belum dimulai.

Saya mulai berkenalan dengan teman-teman baru dan temu kangen dengan teman lama. Setelah semua berkumpul, acara dimulai dengan pengarahan dari Mbak Yurike, selaku Cs. Koordinator. Beliaulah yang menjelaskan seputar Transmart dan mengarahkan kami mengelilingi Transmart dari lantai 1 hingga lantai atas.

Di lantai 1 kami berkeliling kembali dan tepat di depan Daun Lada kami berhenti, mendengarkan penjelasan seputar menu di sana beserta menu andalannya, yaitu  Ikan Cerapu Cantan. Di sana juga ada kepiting dengan cangkang yang bisa dimakan. Daun Lada memang menawarkan menu lokal dan non lokal. Setelah puas wawancara, kami kembali keliling. 
Lanjut ke lantai 2, yaitu pusat perbelanjaan. Dari makanan, kue hingga minuman. Di sana juga fresh market dengan adanya foodbar, menyediakan lauk yang segar dan bisa langsung digorengkan. Ada juga rujak buah yang segar, salad yang saosnya bisa ambil sendiri. Setiap hari akan menyajikan yang segar dan bagus, karena jika tidak habis makanan tersebut akan dihancurkan da tidak akan diolah kembali. Transmedia juga kerjasama dengan petani dan peternak, sehingga mendapatkan kualitas yang terbaik.








Untuk lantai 3 tersedia baju, perlengkapan rumah tangga hingga kebutuhan manusia zaman sekarang, yaitu Handphone. Khusus untuk pengguna kartu Bank Mega, akan mendapatkan potongan 10 persen. Bahkan untuk pembelian HP, tidak ada DP sama sekali, tinggal bayar uang cicilan perbulannya. Sedangkan pakaian yang dijual di sana juga banyak potongan harga dan bonus, misal beli satu dapat satu, bahkan ada beli dua dapat 1. Siapa yang tidak tergiur dengan tawaran seperti ini?


Lanjut ke lantai atas yaitu Transmini, tempat area bermain di dalam ruangan. Untuk jenis permainannya yaitu Crazy Crab Coster, Flume Ride, Sky Rider, Bumber Car dan Mini Train. Sedangkan untuk jenis game ada sekitar 140 game yang tersedia. Untuk harga tergolong terjangkau. Harga termahal pun hanya 35 ribu, itu pun untuk permainan Crazy Crab Coaster. 


 Waktu itu saya dan teman-teman uji coba permainan tersebut, durasi waktunya memang sebentar dengan 2x putaran. Namun, perasaaan saat menaikinya benar-benar menguji adrenalin. Saat naik, turun, berasa dijatuhkan. Membuat deg-degan. Saya dan teman-teman hanya bisa jejeritan dengan perasaan campuk aduk, antara takut, senang, seru dan menantang.



Untuk wahana anak-anak, beberapa teman-teman blogger membawa anak mereka untuk uji coba wahana anak, seperti  Sky Rider dan Mini Train. Rata-rata anak kecil menyukai permainan tersebut, walau ada 1-2 anak yang tidak mau ikut, karena masih takut dan ingin didampingi oleh orang tuanya.




Untuk pembayaran wahana dan permainan menggunakan kartu, yang diisi saldo minimal 80 ribu. Jika mengisi saldo 100 ribu akan terisi 115 ribu. Dalam pengunaan wahana, hanya menyerahkan kartu lalu saldo akan terpotong sendiri, sesuai dengan harga masing-masing wahana dan permainan.



Setelah puas menikmati wahana dan mulai kelaparan ataupun haus, jangan khawatir, tidak perlu turun ke lantai bawah, karena di sana juga ada stan makanan dan minuman. 

Untuk konsep yang diusung Transmini adalah konsep Eropa, dengan adanya Menara Eiffel dan beberapa bangun di Eropa. Sedangkan Transmart sendiri memberikan layanan 5 in 1 yaitu belanja, bersantap, menonton dan menginap dalam satu kawasan. Lengkap sudah. Siapa yang tidak ingin ke Transmart jika di sana semua tersedia? 


Transmart dibuka dari jam setengah 10 pagi hingga jam 10 malam. Cukup memuaskan jika ingin menghabiskan waktu di Transmart yang beralamat di Jl.Veteran No. 8 Penanggungan, Kecamatan Klojen Kota Malang.

By: Zahara Putri
28 Mei 2019
20.35 wib

  










Saturday, 18 May 2019

BUKU JATI DIRI

No comments :

Sejatinya kita seorang yang ingin menjadi lebih baik. Kehidupan lebih baik, perilaku yang lebih baik dan apa pun menuju hal yang lebih baik. Namun, sebelum ke sana, tentunya ada langkah yang harus dijajaki, ada halangan dan rintangan yang menyertai. Mungkin akan ada tangis, luka, bimbang, ragu, mengeluh , lelah dan mungkin juga disertai ratapan.

Apakah ketika masa itu harus menyerah? Tentu tidak. Kita harus melewatinya, harus berani menghadapinya, tanpa takut kata gagal, tanpa takut kekecewaan hadir, tanpa takut tidak sesuai harapan.

Begitu pula dalam mempelajari jati diri kita dan jalannya pencarian jati diri, tidak akan begitu saja kita dapatkan.Jati diri sesungguhnya adalah dari diri kita ketika kita mampu menggapainya dengan segala perjuangan kita. Kita akan mengetahui, sebenarnya apa yang akan kita inginkan dalam hidup kita ini? Apa tujuan kita hidup dan untuk siapa kita hidup?

Kumpulan puisi dalam buku 'Aksara Jiwa' yang saya tulis dengan teman-teman ini, menceritakan tentang jati diri. Jati diri dari berbagai pandangan beberapa penulis. 

Seperti apa yang dikatakan pada blurb di buku ini yaitu:

Menghimpun masa lalu menjadi simfoni, bertahta angkuh ego untuk tak melihat sekeliling. Percayalah, dunia teramat luas untukmu kembali. Tangan-tangan tulus 'kan merengkuhmu tanpa tanya yang mengiringi. Berproses tanpa takut dilukai. Menikmati takdir dengan syukur dan yakin akan jalan yang terpilih. Karena sejatinya JATI DIRI adalah hak insan pribadi, agar aksara jiwa mampu diteladani dalam kehidupan, sebab belajar dari kesalahan adalah penting bagi yang bisa memaknai arti hidup ini. Karena kita semua adalah generasi yang berbudi.


(El Ripsa, kontributor Cipta Puisi Jati Diri)


Buku ini terdiri dari 71 puisi jati diri, ditulis oleh beberapa penulis yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Baik dari guru, pns, ibu rumah tangga, karyawan, mahasiswa, bahkan anak sekolah. Mulai dari usia remaja hingga usia senja. Semua turut menyumbangkan karyanya di sini.

Aksara Jiwa merupakan judul yang disepakati bersama, diterbitkan di Penerbit Mandiri Jaya. Saat ini buku sedang proses terbit. Jika ingin mendapatkan bukunya bisa hubungi salah satu penulisnya, atau langsung pesan ke penerbitnya.

Lawang, 19 Mei 2019
07.11 Wib


Pemesanan bisa ke nomor Wa: 081333303480
Atau FB/IG @mandirijayamalang

Saturday, 11 May 2019

Review Film Korea

No comments :

Review: My Wife Got Married
Zahara Putri




Awal pertama melihat film ini, dari ketidaksengajaan bangun di tengah malam. Kesulitan tidur, menjadikan TV sebagai pelampiasan rasa jenuh. Saat itu film romance Korea ini sudah hampir separuh penayangan. Namun, saya tetap melanjutkan menonton. Sepertinya menarik.

Pada umumnya, baik film, sinetron, atau drama lebih sering menceritakan tentang poligami, tapi berbeda dengan film ini, lebih memilih berbeda dengan yang lain, mengusung tentang poliandri. Film yang diangkat dari novel terlaris dan tayang tahun 2008, diperankan oleh Kim Jo-hyuk dan So Ye-jin

Berawal dari sepasang kekasih yang saling mencintai, tetapi sang wanita lebih menyukai kebebasan dan tidak suka dengan banyak aturan. Perjuangan sang pria mulai dari saat mereka menjadi kekasih, bagaimana ia meyakinkan kekasihnya bahwa pernikahan itu penting. Berkali-kali melamar, tetapi ditolak kekasihnya. Namun, pria itu tidak menyerah, bahkan syarat yang diajukan kekasihnya ia harus menuruti. Tidak suka diatur, tidak mau terkekang, dan bebas melakukan apa yang ia mau, bahkan jika pun pulang malam atau dini hari nantinya setelah menikah, sang pria harus memaklumi.

Karena begitu cinta dengan kekasihnya, pria tersebut menurutinya. Sang wanita akhirnya luluh dan menerima lamarannya. Setelah menikah hidup mereka semakin bahagia, bahkan sang pria semakin mencintai istrinya. Ia tetap berusaha sabar dan mencoba memaklumi ketika istrinya pulang dini hari, karena minum-minum atau ngumpul bareng teman kantornya. Namun, terkadang sebagai manusia normal, ia terkadang melihat istrinya melakukan hal seenaknya dan pulang dini hari. Lantas setelah itu ia akan berusaha memaklumi lagi dan tetap mencintai istrinya. Asal hati istrinya untuknya dan mereka hidup bersama, itu tak menjadi masalah.

Permasalahan mulai  datang saat istri meminta menerima tawaran kerja di kantornya, ditempatkan di kota lain. Sang suami terus menolak, ia tidak bisa jauh dengan orang yang dicintainya. Namun, istri terus merajuk dan memohon, meyakinkan suaminya bahwa mereka akan tetap bertemu di akhir pekan. Jika rindu, cinta mereka semakin bertambah. Akhirnya suami mengabulkan permintaan istrinya dengan berat.

Memang benar awal-awal mereka terpisah dan hanya bertemu di akhir pekan, menjadikan cinta dan kerinduan semakin besar. Bahkan untuk melakukan hubungan suami istri dan bermesraan mereka semakin bergairah. Namun, itu hanya di awal-awal.

Bulan-bulan berikutnya, sang istri mulai jarang pulang di akhir pekan. Hingga suatu hari istrinya mencoba jujur bahwa ia mempunyai lelaki lain dan ingin menikah dengan lelaki tersebut. Kaget, sakit hati, kecewa itulah yang suaminya rasakan.

Suami menyuruh istrinya memilih, dia atau lelaki yang baru ia cintai. Istrinya tidak bisa memilih, baginya keduanya berarti dan ia cintai. Maka dari itu istri jujur dan tidak ingin membohongi suaminya.

Tentu alasan istrinya tidak bisa ia terima begitu saja, ia ingin berpisah dan merasakan sakit hatinya sendiri, tetapi istrinya tidak mau. Melihat istrinya menderita dan terus meminta maaf, akhirnya suaminya pun menyerah, memilih mengalah.

Bagaimana ia harus sakit hati melihat istrinya dengan lelaki lain, bahkan ketika mempunyai anak pun, sang suami terus bertanya anak tersebut hasil dirinya dan istri atau istrinya dan suami keduanya.

Pria itu terus menjalani hidupnya dengan rasa cemburu, terluka dan siksaan hati. Merahasiakan semua dari keluarga dan teman-temannya. Sedangkan istri kedua bahagia dengan suami keduanya.

Beruntungnya suami kedua tidak mencoba memusuhi suami pertama, ia berusaha akur, sesama suami yang hidup akur, bahkan dianggap kakak sendiri.

Dan ending yang bikin nelangsa, suami pertama akhirnya menerima kenyataan dan berusaha ikhlas. Berdamai dengan hidup yang ia jalani. Apalagi setelah ia tahu, anak yang dilahirkan istrinya buah hasil dirinya dan istrinya. Secara akurat dicek pada test DNA.

Ternyata, walau istrinya mempunyai suami kedua, ia tetap prioritas suami pertamanya. Ketika hubungan dengan suami kedua, sang istri menyuruhnya menggunakan pengaman, beda ketika dengan suami pertama. Bahkan nama anak yang ia berikan tetap menggunakan nama yang disukai suami pertamanya. Hal-hal romantis yang dilakukan suami pertama, tidak ia lakukan dengan suami kedua.

Dari situlah suami pertama, menerima keadaan. Istrinya tetap mencintainya. Cinta yang mempunyai porsi masing-masing dan tidak bisa memilih. Seperti kata istrinya, "Ketika ada lelaki lain, bukan memecahkan hati, tetapi semakin menguatkan."

Statement istrinya tentunya banyak yang menolak, tetapi baginya asal tetap bersama istri dan anaknya dan hidup bahagia, ia tidak peduli walau ada suami kedua.

Jika kalian nonton film ini, siap-siap baper dan kecewa. He. Namun, menurutku film ini bagus. Suka akting istrinya, dan kasihan dengan wajah menyedihkan suaminya. Top pokoknya!

Lawang, 8 Mei 2019
05. 14 WIB





Tuesday, 27 March 2018

Launching Buku Malang Menulis dan Lomba Cerpen

No comments :


Malang Menulis Suguhkan Even yang Melatih Kecepatan Otak dan Waktu

Setelah beberapa lama vakum karena kesibukan masing-masing anggota, akhirnya Malang Menulis mampu menghidupkan kembali komunitasnya dan menambah anggota baru. Bahkan mampu membuat sebuah even yang terbilang sukses dan membanggakan.

Untuk mendapatkan kesuksesan tersebut, tidaklah begitu saja didapat dengan mudah. Butuh kerja keras, kerjasama dan rasa optimis. Bahkan beberapa anggota harus merelakan waktunya untuk beberapa kali pertemuan dan rapat persiapan even. Tidak hanya anggota yang masih menetap di Malang, anggota yang sudah tinggal di luar Malang pun rela jauh-jauh untuk acara Malang Menulis.

Bangkitnya Malang Menulis
Waktu awal terbentuk Malang Menulis tahun 2013 dan ketika saya masih menjabat sebagai wakil ketua, anggota Malang Menulis masih penuh semangat setiap ada pertemuan dan kegiatan kepenulisan. Bahkan ketika even pertama yaitu Bulan Bahasa di tahun 2014, dengan mengadakan lomba menulis cerpen dan mendongeng tingkat Sekolah Dasar dan juga ketika launching buku pertama 'Antologi Bakso Arema' anggota Malang Menulis begitu kompak dan bersemangat, hingga acara berjalan.

Namun lambat laun, beberapa kali pergantian kepengurusan dan kesibukan masing-masing, kegiatan Malang Menulis mulai berkurang. Apalagi banyak anggota yang sudah menikah dan diboyong suami mereka ke luar kota, komunitas ini mulai vakum.

Dari waktu vakum itu akhirnya menumbuhkan rasa rindu dan ingin mengulang kebersamaan ketika Malang Menulis aktif. Hingga di tahun 2017, beberapa anggota menyampaikan kerinduan tersebut. Ingin membangkitkan lagi Malang Menulis. Ingin kembali berkumpul dan diskusi kembali tentang kepenulisan.

Akhirnya para pengurus, mendiskusikan ini semua dan mencoba menghidupkan kembali. Pengurus dan beberapa teman-teman mengadakan beberapa kali pertemuan dan sepakat untuk membuat rekruitmen anggota dan membuat antologi kembali.

Ternyata ketika menyampaikan rekruitmen anggota dan antologi baru, responnya begitu luar biasa. Seolah dari agenda ini komunitas Malang Menulis mulai bangkit lagi, bahkan yang sudah tinggal di luar kota, juga tetap ikut serta mengirim naskah. Walau hanya berhubungan lewat sosial media, hal itu tak menyurutkan semangat dan kebersamaan diantara mereka.

Setiap anggota mulai saling merangkul dan bekerja sama. Bahkan naskah yang masuk, melebihi yang diprediksi. Minimal 100 lembar bisa jadi buku, namun setiap orang banyak yang mengirim lebih dari satu naskah. Jika diloloskan semua jumlah halaman bisa 300-an. Akhirnya  disepakati akan diambil satu naskah cerpen, 2-3 puisi, dan satu artikel untuk masing-masing anggota.

Untuk rekruitmen anggota, komunitas Malang Menulis juga mewajibkan anggora baru mengirim naskah, sebagai syarat untuk bergabung menjadi anggota. Hal ini bertujuan untuk melihat keseriusan anggota baru bergabung dengan Malang Menulis.
"Kami tidak menginginkan hanya tertulis nama saja sebagai anggota, tetapi tidak aktif. Kami ingin mencari anggota yang bisa aktif dan memang serius," ujar salah satu pengurus Malang Menulis.

Ada beberapa naskah masuk selain anggota, namun tidak semua  diloloskan. Pengurus komunitas Malang Menulis akan menanyakan kesediaannya untuk bergabung dengan komunitas. Dan jika naskah masih belum layak, tidak serta merta menolak bergabung. Jika dia berminat, untuk pertemuan selanjutnya dia bisa hadir, dengan kehadiran dia walau naskah tidak lolos sudah bisa memperlihatkan keseriusannya.

Namun sayang ketika pertemuan, banyak yang tidak datang. Sehingga harus menyeleksi kembali. Hanya ada beberapa anggota baru yang memang layak dan karyanya bisa dibukukan dengan anggota lama.

Persiapan Launching Buku
Komunitas Malang Menulis merencanakan launching buku di bulan Januari, namun karena ada beberapa kendala baik dari pengeditan ataupun cetak, akhirnya diundur bulan Februari. Buku kedua Malang Menulis disepakati dengan judul 'Malang dalam Aksara'.

Diterbitkan di Ae Publishing di mana pemilik penerbitan tersebut anggota Malang Menulis. Begitu pula dengan editornya juga anggota. kedua hal ini semua dikerjakan oleh anggota, pemilihan cover buku juga kesepakatan bersama. Dari anggota untuk anggota.

Untuk memeriahkan acara tersebut, komunitas Malang Menulis mengadakan lomba menulis cerpen untuk tingkat SMP dan SMA se-Malang Raya. Diharapkan dengan melakukan kedua acara tersebut, kebersamaan semakin terjalin, dan kerinduan akan kebersamaan waktu Malang Menulis masih aktif juga terobati. Dan hal yang terpenting dari itu semua adalah mengenalkan dunia kepenulisan kepada para remaja, membangkitkan minat baca dan menulis, sehingga mereka bisa menyukainya tanpa beban.

Untuk menyiapkan itu semua tentu tidak mudah, pengurus mulai membuat kepanitiaan, para anggota saling bekerjasama. Bahkan untuk mengirimkan surat undangan ke setiap sekolah, para anggota pula yang langsung terjun. Bahkan saya butuh beberapa hari untuk menyebar undangan, hingga bisa menyebar ke beberapa sekolah di Singosari dan Lawang.

Beberapa anggota lainnya menyebar ke Malang kota, ke Batu, ke sekolah tempat mereka mengajar. Selain undangan ke sekolah, juga membagikan infonya ke sosmed. Saling bahu membahu dan bekerjasama.

Tentunya tidak semua sekolah yang diundang, ikut semua ataupun terbuka menerima. Ada pula yang cuek dan tidak peduli. Tapi anggota Malang Menulis tidak mau menyerah, ini namanya perjuangan. Demi dunia literasi.

H-7 jumlah penduduk peserta yang daftar belum sampai 20 orang, Ketua  Malang Menulis, Rosyidah Zuhro, mulai pesimis. Tapi beberapa anggota berusaha tetap semangat dan optimis, berharap ada keajaiban di hari H. Jumlah peserta yang sesuai target. Target yang diharapkan sekitar 50 peserta, baik pelajar SMP maupun SMA.

Setiap anggota yang bertugas mengirim surat ke sekolah mulai  melobby ke setiap sekolah yang mereka datangi, menanyakan keikutsertaannya. H-1 sungguh mengejutkan, jumlah peserta sekitar 60 peserta. Pengurus Malang Menulis bernafas lega, sangat senang dan sekaligus bingung.

Senang karena jumlah peserta yang banyak, bingung karena kebanyakan peserta bayar ketika hari H. Pengeluaran untuk acara tentu lebih banyak dari pemasukan jika yang bayar lomba sebelum hari H sedikit.

Namun, dibalik kesulitan tentu ada jalan. Malang Menulis terus maju dan optimis. Saling bekerjasama, bahkan konsumsi yang dikerjakan oleh anggota pun mendapatkan harga yang murah. Harga sahabat.

Lomba Menulis Cerpen Tingkat SMP dan SMA se-Malang Raya
Pada hari Minggu, 25 Februari 2018, registrasi peserta dimulai pukul 09.00 WIB, namun sebelum jam tersebut sudah banyak peserta yang hadir memenuhi parkiran Togamas Dieng. Beberapa panitia ada yang sudah datang, namun beberapa masih dalam perjalanan.

Pukul 09.00 WIB registrasi dimulai, awalnya harus menulisnya di buku tulis karena daftar peserta dibawa salah satu panitia yang masih dalam perjalanan ke lokasi. Namun tidak butuh waktu lama, daftar peserta sudah datang, dan tinggal mencocokkan nama peserta dan memberikan nomer peserta.

Ternyata yang datang tidak hanya peserta yang sebelumnya sudah daftar, ada beberapa peserta yang daftar di tempat. Jumlah peserta yang masuk total 74 peserta, melebihi target. Menjadikan waktu registrasi yang seharusnya setengah jam menjadi satu jam. Sehingga acara lomba pun ikut mundur.

Lomba menulis cerpen dimulai pukul 10.00 WIB dan berakhir pukul 11.15 WIB. Waktu yang seharusnya satu setengah jam pun akhirnya juga terpotong. Yang membuat para peserta kebingungan ketika waktu dinyatakan selesai.

Tempat pelaksanaan yang rencananya hanya di lantai 2, karena banyaknya peserta sehingga menggunakan lantai 3 juga untuk tempat lomba. Untuk tema diberikan waktu itu juga yaitu persatuan dalam keberagaman dan persahabatan. Setiap peserta menulis cerpen langsung di tempat.

Lomba menulis cerpen di tempat dan pemberitahuan tema di hari H, bertujuan untuk melatih kecepatan otak dan pengolahan waktu bagi setiap peserta.

Lomba menulis cerpen di tempat dan pemberitahuan tema di hari H, bertujuan untuk melatih kecepatan otak dan pengolahan waktu bagi setiap peserta.

Setiap peserta begitu terpacu dan penuh semangat ketika menuliskan lembar demi lembar karya mereka di kertas folio yang dibagikan oleh panitia.

Acara lomba berjalan cukup lancar, setelah diumumkan waktu selesai. Para peserta mulai mengumpulkan naskahnya di lantai 1 dan mengambil konsumsi dengan tertib.

Launching Buku 'Malang dalam Aksara'
Acara launching dimulai setelah lomba menulis cerpen, beberapa peserta duduk rapi mengikuti berjalannya launching buku 'Malang Dalam Aksara'. Selain peserta lomba juga ada beberapa kontributor dari buku 'Malang Dalam Aksara', tamu undangan dan umum. Karena launching tersebut bisa diikuti oleh siapun.

Kontributor yang jauh-jauh menempuh perjalanan hanya untuk hadir di acara launching diantaranya Roby Aldi dari Probolinggo, seorang pelajar SMA yang juga nyantri. Ia hadir didampingi oleh wakil kepala sekolah tempat ia mengenyam pendidikan.

Selain itu ada Guntur Kurniawan yang menempuh perjalanan dengan naik kereta api dari Sidoarjo. Perjalanan yang ditempuhnya pun membuahkan hasil, dia masuk kategori naskah terbaik di buku 'Malang Dalam Aksara'.

Penulis di buku 'Malang Dalam Aksara' rata-rata dari Malang atau tinggal di Malang, namun ada satu dua orang yang tidak. Namun walau demikian kecintaannya akan kota Malang, mampu dituangkan dalam karya yang ada di buku 'Malang Dalam Aksara'.

Yohana Kriesta membawakan acara launching sangat menyenangkan dan membuat suasana lebih hidup. Untuk perwakilan dalam diskusi, disampaikan oleh Rosyidah Zuhro dan Anisa Ae. Mereka cukup gamblang membahas buku dan komunitas, sehingga mudah dimengerti terutama bagi para pelajar.

Di pertengahan acara Anisa Ae, menangis tanpa bisa menahan kesedihannya ketika menceritakan isi buku dan salah satu kontributor yang sudah terlebih dahulu dipanggil oleh sang Kuasa, yaitu Koko Ferdie. Sehingga di kesempatan launching buku kali ini, dia tidak ada, hanya menyisakan karyanya.

Acara launching juga berjalan cukup lancar, dengan melihat minat peserta yang penasaran dengan buku yang dilaunching. Apalagi ketika 2 penulis buku 'Malang Dalam Aksara' yang juga masih pelajar membagikan pengalamannya saat bisa bergabung menjadi kontributor, yaitu Octavianus dan Robi Aldi.



"Lomba tadi selain menambah wawasan saya, saya juga semakin suka dunia menulis. Seperti apa yg dikatakan kakak-kakak waktu launching tadi. Terutama dari kak Robi juga, " ungkap Kaysha salah satu peserta lomba.

Saat launching juga diumumkan kategori naskah terbaik, yaitu :
1. Cerpen terbaik: Kholid Amrullah, dengan judul 'Evangelista'.
2. Puisi terbaik: Guntur Kurniawan, dengan judul 'Pstt... orang goblog mau bicara'.
3. Artikel terbaik: Indhar Wahyu, dengan judul 'Triathlon Wisata di Kota Malang'.

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cerpen
Ketika acara launching berlangsung, keempat juri yaitu Redite Kurniawan, Panjilmo Putro, Kholid Amrullah dan Agustina Dewi, menilai tulisan semua peserta lomba.

Setelah acara launching, pengumuman peserta pemenang pun diumumkan. Juri cukup berat ketika mengambil keputusan.

"Semua naskah yang masuk bagus-bagus," begitu penuturan Kholid Amrullah perwakilan juri saat akan mengumumkan nama pemenang.

Namun karena setiap lomba harus ada juara maka akhirnya diputuskan 4 juara yang dinyatakan sebagai naskah terbaik. Dan layak mendapatkan Thropy, sertifikat dan uang pembinaan. Sedangkan juara 4 mendapatkan buku. Karena memang sebelumnya hanya rencana diambil 3 pemenang.

Juara lomba menulis cerpen tingkat SMP se-Malang Raya yang diadakan Malang Menulis tahun 2018:
- Juara 1 : Ranum Dyah Titah Azellia dari SMP 3 Batu, judul cerpen "Trauma akan Bakat".
- Juara 2 : Rahima Windra P, dari MTSN 3 MALANG, judul cerpen "Sahabat dari Pesantren".
- Juara 3 : Syarla Amelia Putri, dari SMP PGRI 2 LAWANG, judul cerpen "Skenario Abadi".
- Juara 4 : Salsabila Cendrayu Onidia Ismah, dari SMPN 1 SINGOSARI.judul cerpen "Sahabat Tidak Pernah Membiarkanmu".


Sedangkat juara lomba menulis cerpen tingkat SMA se- Malang Raya yang diadakan Malang Menulis tahun 2018:
- Juara 1 : Made Gitasathya Winandini dari SMAN 1 Lawang, judul cerpen "Luminescene dan Swastamita".
- Juara 2 : Ayu Sri Winahyu dari SMAN 1 Lawang, judul cerpen "Senandika Tentang Persahabatan".
- Juara 3 : Dyah Annisah, dari  SMAN 9 Malang, judul Cerpen "Kau dan Mereka Sama".
- Juara 4 : Niken Febriati dari SMAN 1 Singosari,  judul cerpen "Mananka".



Penutup Acara lomba menulis cerpen dan Launching
Setelah acara selesai, ditutup dengan foto bersama. Bagi peserta yang tidak mendapatkan predikat juara, masih bisa mendapatkan sertifikat sebagai peserta lomba.

Dan komunitas Malang Menulis memberi kesempatan pula kepada peserta yang ingin bergabung dan diskusi seputar kepenulisan.

Bahkan menurut Rosyidah Zuhro, "Diharapkan di kesempatan berikutnya, para peserta bisa berkumpul kembali. Menulis bersama dan dibukukan.".



By: Zahara Putri
Bangil, 2 Maret 2018

Thursday, 15 February 2018

Menulis Modal HP

3 comments :

Menulis Modal HP

Saat komputer dan laptop rusak, saat itu aku merasa berakhir sudah. Aku gak bisa nulis lagi. Nulis di buku juga gak mungkin maksimal. Ditambah lagi semua dataku hilang, flaskdiskku rusak, semua dataku tersimpan di komputer yang rusak. Harapanku seolah musnah.

Pada saat itu aku ingin menyerah. Ya! Mungkin cukup lama aku memilih vakum menulis, sekitar hampir 2 tahun. Aku tidak menulis. Aku menyibukkan diri dengan kegiatanku dalam wiraswasta, aku semakin sibuk dan merasa tidak ada waktu lagi untuk menulis.

Namun, nyatanya kerinduanku akan menulis sering hinggap, aku merasa hampa tanpa menulis, hidupku rasanya kurang lengkap tanpa menulis. Bahkan terkadang aku iri dengan beberapa temanku yang namanya melejit karena karya mereka. Sungguh aku iri.

Aku mulai merindukan menulis, aku merindukan diriku yang dulu, yang bersemangat dalam menulis dan mengikuti lomba. Sungguh aku rindu. Ada rasa sedih jika kerinduan itu tak tersalurkan.

Sesekali aku menuangkan kerinduan tersebut dengan menulis diary atau menulis status di sosmed. Aku ingin kembali mengasah kemampuan menulisku lagi. Aku ingin lancar menulis kembali.

Saat banyaknya lomba, sungguh aku ingin mengikutinya. Aku sedih jika melewatinya begitu saja. Entah. Walau aku sering gagal dalam lomba, tapi jika aku tak melakukan apa-apa dan mencobanya, rasanya itu menyedihkan.

Ya! Aku ingin menulis lagi. Walau terkendala fasilitas aku harus menulis lagi! Semangat menulisku semakin bertambah ketika ada teman yang menyemangati menulis dan mengajak ikut antologi. Ia pula yang menyarankan untuk menulis di buku atau hp. Okey, kenapa tidak aku coba?

Akhirnya aku mulai menulis di buku tulis, coret-coret di sana. Walau tangan ini terasa kaku dalam memegang pena, apalagi aku memang terbiasa menulis di komputer. Hal ini cukup berat bagiku. Tapi, aku tidak mau menyerah. Aku harus menulis.

Berawal dari buku akhirnya beralih ke hp. Aku tanya ke teman-teman aplikasi word yang bisa dipasang ke hp, dan sejak awal terinstal aplikasi tersebut akhirnya aku mulai menulis kembali.

Beberapa kali ikut lomba, hanya bermodalkan hp. Jika perlu mengedit secara maksimal aku harus lari ke warnet. Yang letaknya jauh dari rumah. Begitulah yang terus kulakukan hingga kini dalam menulis. Buku, hp dan warnet. Aku hanya bisa mengandalkan itu saat ini.

Bahkan waktu membantu mengedit buku komunitas pun aku mengedit di hp, selanjutnya ke warnet. Dan hal yang membuat sedih itu, ketika aku susah payah mengedit naskah yang lebih dari 200 lembar ketika di buka di komputer, editanku jadi berantakan. Hak itu yang membuatku nyesek dan pengen nangis. Aku harus mengulang kembali.

Tapi apapun kendala dalam menulis, aku tetap tak mau menyerah dan berhenti menulis. Aku tetap menulis walau hanya bermodalkan hp. Dan alhamdulillah, nyatanya ada hasil dari itu semua. Salah satu tulisanku masuk di buku antologi yang akan dilaunching tanggal 25 Februari 2018.

Ini perjuangan, walau hanya modal hp setidaknya aku masih bisa berkarya dan menghasilkan sebuah buku. Ini langkah awal, dan aku berharap akan ada karya-karya selanjutnya.  Dengan modal hp, sebuah karya tidak boleh terhenti.

Tetap menulis dan berkarya!

By: Zahara Putri
Bangil, 15 Februari 2018
22.21 wib

Wednesday, 10 August 2016

Bapak Tua Penjual Kacang

2 comments :
Setiap kali mengantar suami isi bensin, pasti akan saya dapati beberapa penjual makanan, baik itu bakso, cilok atau manisan. Di salah satu pom bensin di Bangil aku juga mendapati seorang penjual kacang, seorang bapak tua yang sering menjajakan dagangannya.

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, setiap kali beliau menawarkan kacang, aku selalu menolak. Namun lambat laun aku mulai memperhatikan, perjuangan dan wajah keriputnya saat bekerja. Beliau cukup tua, dengan jalan yang tak lagi tegak, namun masih bekerja. Terus menjajakan kacang.

Hati ini menjadi tersentuh, kenapa masih ada bapak tua yang bekerja di usia senja, di mana anak-anaknya? Kenapa membiarkan orang tuanya bekerja? Kenapa anak-anaknya tidak mengurusinya. Beberapa pertanyaan bergelayut dengan sendirinya.

Akhirnya, karena bentuk dari rasa iba, aku mencoba menanyakan berapa harga kacang yang beliau jual. Aku langsung tertegun dengan jumlah harga yang beliau sebutkan, hanya seribu untuk sebungkus kacang. Sangat murah. Aku pun membelinya.

Dari kejauhan aku masih menatap beliau yang begitu gigih berjualan. Dalam hati aku selalu berdoa, agar rejeki beliau diperlancar. Semoga hidupnya lebih baik dan akan ada yang lebih peduli terhadapnya.

Bangil, 11 Agustus 2016
09.53 wib

By: Zahara Putri

Thursday, 31 December 2015

Novel Zahara Putri

6 comments :

Ini pertama kalinya novel karyaku terbit, tentu saja sangat bahagia. Setelah bertahun-tahun menulisnya, akhirnya tulisanku ini diterbitkan juga. Secret Admirer merupakan buku tunggal ketiga setelah Mantan Terindah dan Senandung Cinta Sang Putri, namun menrupakan novel pertama. 

Untuk pewnjelasan dan sinopsis dari buku karyaku ini, adalah sebagai berikut:

Judul: Secret Admirer
Karya: Zahara Putri
Layout: Roemant -Art
Tebal: vii+316 hlm 13x19 cm
Cetak: September 2015
Harga: 52.000

Sinopsis
Lelaki mata telaga itu hadir menggelisahkan hati Aisyah. Cinta tak bisa dielak, namun ketakutan akan pertemuan menjadikan Aisyah sebagai "Secret Admirer" bagi lelaki tersebut selama bertahun-tahun.

Kekuatan cinta dan kesetiaan Aisyah menjadikan hati lelaki tersebut luluh. Lelaki pujaan hatinya itu berharap akan pertemuan.

Namun, ketika pertemuan sudah direncanakan justru Aisyah tidak hadir karena ketakutannya sendiri. Ketidakhadiran Aisyah menjadikan lelaki tersebut kecewa dan merasa dipermainkan.

Lelaki pujaan hati Aisyah tersebut menghilang dari kehidupan Aisyah. Kepergiannya menjadikan kesedihan dan penyesalan bagi Aisyah.

Ketika kembali bertemu, nyatanya hati lelaki tersebut bukan lagi untuk Aisyah. Hati Aisyah hancur, hanya penyesalan dan kesedihan yang ia rasakan.

Lelaki yang dicintainya tak mampu ia miliki, tetapi hati Aisyah tetap bertahan. Mencintainya dan terus menunggu hingga hati lelaki tersebut kembali padanya.

Nb: Buku bisa dipesan ke Penerbit Reybook: http://www.penerbitreybook.com/ atau lewat penulisnya.
 

Tuesday, 29 December 2015

Memulai Wiraswasta

4 comments :
 
Perjuangan itu tak selalu mulus, bahkan ketika menjalani kehidupan pun tak selamanya indah. Ada manis dan asam kehidupan. Bahkan pahit pun juga pernah terjadi. Dengan berbagai macam ujian, cobaan dan tantangan dalam hidup.

Ketika menikah tentu akan berbeda dengan sebelum menikah. Ujian hidup semakin besar, dalam bertahan hidup jika harus lebih mandiri. Tidak lagi bergantun terhadap orang tua. Hidup dengan kaki sendiri, melangkah bersama suami memperbaiki kehidupan.

Permasalahan ekonomi tentu tak pernah hilang datang sebagai ujian dalam rumah tangga kami. Beberapa cara sudah kami lakukan, bahkan kami pernah ldr agar perekonomian menjadi lebih baik. Namun dengan kami bekerja sendiri-sendiri dan di kota yang berbeda, menjadikan kekhawatiran dan hati kami merasa sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk resign dan memilih menemani suami.

Aku memulai dengan bisnis online shop walau dengan hasil yang tak pasti, namun setidaknya ketika ada barang yang bisa dijual, alhamdulillah bisa untuk tambahan.  Aku juga berlanjut stok barang dan menjualnya, namun sayang usaha ini menjadikan aku nelangsa dan menangis. Uang terhenti karena dagangan hanya dihutang, ketika ditagih masih ruwet.

Beberapa cara dan usaha terus kami lakukan, hingga kini aku mulai berjualan di depan rumah. Makanan ringan, seperti jamur crispy, tahu criospy, roti bakar, sosis bakar, sosis crispy, telur crispy, dll. Alhamdulillah, dari sini keuangan kami sedikit membaik. Setidaknya setiap hari aku memegang uang, tidak lagi bingung uang untuk belanja.



Mungkin ini jalan untuk saat ini, jikapan nanti ada jalan yang lebih baik dan usaha semakin berkembang, semoga kami tetap selalu bersyukur dan tetap bershodaqoh.

Untuk menulis? Aku tetap menulis dan berharap menulis juga bisa sekaligus menjadi profesi.


 

Wednesday, 11 November 2015

Kucing yang Suka Pose

2 comments :

Seekor kucing sering sekali datang ke rumah. Kucing liar karena tidak diketahui pemiliknya, kucing kampung. Aku sendiri bukan penyuka kucing, karena tidak tahan dengan bulunya, namun suamiku sangat menyukainya. Waktu kucing itu datang, suami selalu menyambutnya dengan suka cita. Dengan memberinya makan, mengelusnya dan mengajaknya bermain. Suami sangat menyukainya. Seolah ada hiburan baru, apalagi kami juga belum dikaruniai anak.


Ketika kami LDR kucing itulah yang menemani suami. Aku membiarkan saja, mungkin itu hiburannya. Lagipula kucing tersebut begitu penurut dengan suami. Lihat saja tingkah polahnya, bahkan suamiku menaruhnya di atas pohon dan memotretnya. Kucing itu begitu manis dan lucu.




Walau kucing itu datang dan pergi, namun suamiku akan tetap bersuka cita dengan kehadirannya. Jikapun pergi, tidak akan dicegah, karena memang kucing liar dan kami bukan pemiliknya.


Tuesday, 27 October 2015

PERJUANGANKU MENGIKUTI BLOGGER CAMP DI TAMANDAYU PANDAAN

6 comments :

Mengikuti acara blogger adalah harapanku karena aku ingin menjadi seorang blogger. Aku selalu iri dengan beberapa temanku yang aktif ngeblog dan bisa mendapatkan uang dari ia ngeblog, bahkan tawaran job review sering ia dapatkan.
Ketika ada info Blogger Camp aku langsung mendaftarkan diri, pendaaftaran juga terbilang agak telat karena mendekati hari terakhir pendaftaran, namun aku tetap optimis walau dengan persiapan yang sedikit.
Panitia memberikan konfirmasi lewat sms dan email, aku langsung berbunga karena bisa diundang mengikuti acara ini. Namun ketika aku membuka email, aku membaca kiriman yang tanpa lampiran. Sehingga aku masih belum paham dengan ketentuan acara tersebut.
Dengan mengandalkan smartphone aku coba hubungi panitia dan menanyakan ketentuan acara tersebut. Lantas aku disuruh membaca lampiran yang sudah dikirim, di sana sudah jelas, bahkan jam dari acara tersebut ditetapkan.
Akhirnya aku harus bolak-balik ke warnet untuk membuka lampiran di email, karena melalui smartphoneku tidak bisa dibuka. Apalagi memoriku hilang jadi tidak bisa download lewat playstore beberapa aplikasi yang kubutuhkan.
Pada hari pertama aku harus berangkat sendiri karena dua orang temanku berangkat sendiri-sendiri, satu orang berangkat naik kereta sedangkan yang satunya naik motor langsung ke lokasi kemah, ia mendapatkan keringanan tidak mengikuti pembukaan di Surabaya karena sedang mengandung.
Aku berharap suamiku bisa mengantarku, namun ia harus kerja. Akhirnya aku memutuskan naik travel, biayanya memang cukup mahal, namun aku harus berkorban. Daripada aku naik bus dan tidak tahu lokasinya dan kesasar, sebaiknya naik travel, langsung ke alamat yang dituju. Walau supir ternyata juga harus muter-muter karena tak kunjung menemukan alamat yang dicari karena termasuk hotel baru dan baru ia dengar.
Sesampai di Yello Hotels aku langsung mengikuti acara. Aku gabung di kloter terakhir untuk mengikuti tour hotel yang dipandu oleh salah satu pegawai hotel. Tour hotel dilakukan untuk bahan tulisan, kami harus mengingat dan mencatat sendiri penjelasan dari pegawai hotel tersebut dan mengambil foto yang sebagus mungkin untuk disertakan dalam lomba.
Semua orang sibuk foto, sedangkan aku sendiri aku melihat saja. Smartphone yang aku gunakan, tiba-tiba mati dan tidak bisa nyala, waktu aku cash sangat sulit sekali masuk. Aku coba gunakan HP jadulku, namun sayang sekali memori penuh, sehingga aku harus menghapusi beberapa untuk bisa mengambil foto.

Aku meminta bantuan teman untuk foto diriku melalui hpnya, hanya lewat hp teman aku bisa mendapatkan hasil kamera yang cukup bagus. Bersyukur sekali seorang teman berbaik hati membantu, akhirnya aku bisa dapatkan foto di Yello Hotels, walau hanya satu.
Ketika perjalanan ke Tamandayu Pandaan, selama di dalam bus para panitia mengumumkan lomba twitter dan instagram. Rasanya aku ingin mengikutinya, namun smarthoneku mati, sedangkan hp jadulku tidak bisa digunakan untuk koneksi internet.
Ketika yang lainnya sibuk otak-atik HP masing-masing, rasanya ada kesedihan tersendiri ketika aku tidak bisa berpartisipasi dalam lomba tersebut, namun aku tetap berharap semoga aku bisa mengikuti lomba yang lainnya.
Sesampai di Tamandayu masih banyak lomba dan kuis yang diadakan oleh panitia, bahkan yang mau bertanya mereka mendapatkan hadiah. Karena kegalauan dan kekecewaanku, rasa percaya diriku menghilang. Aku hanya bisa menunduk dan terus mengikuti acara.
Bersyukur aku terhibur dengan acara api unggun dengan para peserta Blogger Camp, di sana aku mendapatkan teman baru dan mulai bisa tertawa. Bahkan aku bisa menyaksikan langsung kebakaran gunung Arjuna yang kerap terjadi kebakaran karena musim kemarau.
Aku cash smartphoneku, berharap besok harinya bisa nyala dan bisa digunakan. Aku titipkan ke peserta laki-laki yang tidur di pendopo, besok pagi akan aku ambil. Lantas aku kembali ke tenta untuk beristirahat.
Namun ketika berada di tenda aku tidak langsung tidur, aku mencoba membuat draff untuk lomba blog keesokan harinya. Nyatanya kendalaku tidak hanya pada smartphone-ku saja, notebook yang kubawa untuk mengetik, tiba-tiba tidak mau menyala ke tampilan menu. Padahal aku baru saja servis, aku tak tahu harus diotak atik apa, agar tampilan bisa ke menu. Akhirnya aku menyerah, dan menyimpan notebookku.
Aku menulis di buku tulis di tenda yang gelap, sesekali aku terangi dengan nyala dari HP jadulku, bahkan temanku ikut membantu sebentar menerangi dengan HP-nya. Setelah menulis beberapa lembar di buku dan melihat temanku tidur semua, akhirnya aku tidur tepat pada pukul 01.00 WIB. Berharap besok pagi aku bisa melanjutkan dan mengetik.
Di hari kedua ada lomba di Twitter dan Instagram untuk upload foto sandal, aku ingin mengikutinya. Kucek smartphone-ku, baterai yang dicash tidak masuk. Akhirnya aku harus menunggu agar bisa masuk.
Setelah baterai smarthone bisa menyala, aku ingin mengupload foto. Namun sekali lagi smartphone-ku belum terinstal aplikasi Twitter dan Instagram. Baru beberapa hari memegang smarthone yang sekarang ini, karena sebelumnya smartphoneku harus ditukar dengan smatphone lainnya yang spesifikasi lebih rendah karena kendala keuangan keluarga kami. Sehingga uangnya bisa digunakan untuk kebutuhan dapur.
Aku meminta tolong ke teman barangkali bisa mengirim aplikasi, sehingga bisa kuinstall di smartphoneku, tetapi sayangnya ia tidak bisa dan aku juga tidak tahu. Waktu aku coba install di smartphone-ku lewat playstrore, hanya tertulis memori penuh.  Maklum memori eksternalku hilang dan belum bisa membeli, sekali lagi karena kendala keuangan jadi belum bisa membeli memori eksternal.
Aku hanya bisa pasrah, lalu aku mulai mengikuti acara tersebut. Ketika siang hai kami dipersilahkan melanjutkan draff menulis kami untuk lomba blog, aku mulai mencoba mengetik. Aku hanya mengandalkan smartphone-ku yang bisa menyala ketika dicash. Aku terus mengetik, hingga jam 13.00 WIB smartphoneku kesulitan dalam koneksi internet. Mungkin karena lokasinya, jadi sinyal sangat sulit. Apalagi yang membutuhkan koneksi unternet tidak hanya diriku.
Aku mencoba pinjam tab teman, barangkali bisa. Mungkin kartuku yang tidak mendukung, namun nyatanya hasilnya sama. Padahal aku sudah menulis lewat smartphone yang ukurannya tidak terlalu besar. Nyatanya, hasilnya membuatku lemas.
Aku hanya berharap ada keajaiban dan harapan, setidaknya ada 1 lomba yang bisa kuikuiti, bagaimanapun aku mengikuti acara ini tidak ingin tidak mengikuti apapun, sangat sayang dan rugi jika aku harus menyerah.
Sesampai di rumah, seorang teman mengabari perpanjangan waktu untuk lomba. Aku langsung bersyukur dan melanjutkan tulisanku. Semoga ada manfaat yang bisa kudapatkan. Setidaknya, walau aku tidak menang lomba, tetapi aku merasakan perjuangan ketika menulis dan mengikuti lomba tersebut. Hal ini pengalaman dan pelajaran berharga yang tak bisa terlupakan.

By: Zahara Putri
Malang, 27 Oktober 2015


Hymn of Death

Nonton Hymn of Death, Bikin Menyesal! Oleh: Zahara Putri Kenapa aku harus menulis judul seperti itu? Itu memang dari apa yang aku rasakan...